Sekelumit Tentang Koi

Sekelumit pengalaman saat menikmati kemolekan ikan koi.

Saat itu menjelang akhir bulan februari 1993 menyusuri kali kecil disepanjang jalan di sebuah daerah di Saijyo, Honsyu Jepang. Air begitu jernih, udara masih cukup dingin karena baru saja musim salju berlalu, temaram dengan berseminya bunga sakura.. di kali kecil yang jernih itu dijumpai ikan-ikan koi

Menyaksikan keindahan ikan koi adalah suatu pengalaman yang penuh sensasi. Ikan yang kabarnya berasal dari negeri tirai bambu China ini berhasil dikembangkan di negeri sakura Jepang. Ikan ini memiliki keunikan tersendiri. Bentuknya yang indah diselimuti taburan warna-warni cerah di punggungya serta gerakan berenang yang elegan. Beberapa keterangan menyebutkan ikan ini dapat berumur panjang hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Di Jepang pernah dilaporkan ada ikan koi yang mencapai umur lebih dari 200 tahun dan panjang lebih dari 100cm!.

Di Jepang ikan ini dikenal dengan istilah nishikigoi, nishiki-goi. Nishiki berarti karper atau mutiara, goi atau di-spell koi, berarti ikan. Nishikigoi artinya ikan karper / mutiara. Orang Indonesia menyebutnya ikan koi, artinya ikan ‘ikan’, loh ko artinya malah kabur ? Para ahli bahasa silahkan berdebat..:)

Ikan mutiara, begitulah.. sehingga ikan ini sering disebut mutiara hidup, living jewlery.  Ikan yang begitu berharga dimata pecintanya atau pemiliknya. Bahkan dipercaya ciptaan yang agung ini sering dianggap pembawa kebaikan dan kemakmuran kepada pemiliknya.

Ikan koi. Ikan penuh warna. Ikan ini memiliki keunikan warna dan variasi warna yang begitu banyak dan beragam.  Begitu banyaknya warna dan komposisi warna yang dimiliki ikan koi ini, orang Jepang mengelompokkannya kedalam beberapa jenis atau tipe berdasarkan warna. Selain warna, ikan ini juga memiliki variasi sisik atau kulit yang berbeda.

Dalam istilah latin ikan ini disebut sebagai cyprinus carpio, ikan ini termasuk golongan omnivora, pemakan segala, tumbuhan atau lainnya.

Perlu rasanya diketahui bagaimana ikan-ikan tersebut mengalami variasi warna yang begitu banyak. Ada yang menyebut dapat dikelompokan dalam 80-an warna. Namun secara umum para hobiis atau ‘komunitas’ menyepakati hanya beberapa warna utama saja yang paling menarik perhatian yang dapat dianggap memiliki ‘standar keindahan’ seekor ikan koi.

Awalnya ikan koi, atau disingkat saja koi, adalah ikan konsumsi, sejenis ikan mas. Bahkan ada yang menyebut ikan koi ya ikan mas, tapi bukan gold fish sebagaimana ikan yang dikenal di masyarakat Barat. Ikan ini umum dimakan, hidup di sungai atau di kolam-kolam
air tanah, air tawar di daerah tropis dan sub-tropis (dengan treatment tertentu).

Dalam perkembangannya ikan-ikan ini mengalami mutasi, atau perubahan warna. Ternyata perubahan warna ini menimbulkan keindahan tersendiri pada ikan-ikan tersebut dibanding dengan ikan indukannya. Melihat kenyataan ini para petani ikan mas saat itu di Jepang, sekitar 200-an tahun yang lalu, memisahkan dan memeliharanya secara terpisah
dari ikan mas konsumsi yang notabene adalah induknya sendiri. Diduga warna mutasi pada awal-awal perkembangannya hanya memiliki 3 warna yaitu hitam, merah an putih sebagai warna dasar tubuh.

Selanjutnya pada perkembangan kemudian, para petani koi ini mencoba untuk mengawinsilangkan diantara beberapa ikan mutasi ini dengan ikan mas atau dengan ikan mutasi warna lainnya. Dapat diduga dari induk yang memiliki warna yang tidak sama akan lahir anakan yang merupakan kombinasi dari indukannya, atau dalam ilmu biologi dikenal dengan hukum Mandell, Gregory Mandell.

Dibalik keuntungan atau keindahan warna yang dihasilkan oleh karena mutasi atau dari rekayasa perkawinan diantara ikan-ikan mutasi ini ternyata ada kelemahan yang ikut  menyertainya. Ikan-ikan hasil mutasi ini tidak memiliki ketahanan sebagaimana induknya. Ketahanan dalam arti kemampuan menyesuaikan diri dengan alam lingkungan tempat hidupnya, yaitu air tawar. Ikan mutasi ini menjadi begitu rawan dan mudah terkena penyakit. Tidak jarang ikan-ikan ini mengalami kematian muda sebelum dewasa. Hal ini tidak dialami oleh induk aslinya yang tidak mengalami mutasi. Barangkali disinilah letak kebijaksanaan alam yang memiliki aturannya sendiri diluar kemampuan manusia.

Begitu antusias-nya para pecinta ikan koi ini sehingga ikan ini sering dilombakan atau dikonteskan. Dicari, dinilai, ditentukan, mana ikan yang paling indah, paling sehat dan tentu saja menjadikan ikan-ikan ini lebih mahal harganya. Pernah tersiar, ikan yang berhasil juara dalam suatu kontes dengan juri yang berpengalaman melambungkan harga ikan ini mencapai harga puluhan juta rupiah 1 ekornya atau bahkan mungkin lebih.

Lantas bagaimana, apakah ikan ini bisa dipelihara secara umum di rumah-rumah atau diternak di kolam-kolam ? Jawabannya tentu bisa. Ikan ini dinikmati keindahannya karena warna dipunggunya, sehingga tidak umum dipelihara di dalam aquarium. Kecuali barangkali karena suatu hal, seperti karena perawatan dan sebagainya sehingga ditempatkan di aquarium atau wadah lainnya.

Dari pengalaman, sebagimana disebut di atas, bahwa ikan ini memiliki ketahanan yang lemah, seringkali ikan ini mengalami kematian tanpa diketahui sebabnya. Tidak ada luka, tidak ada  kerusakan fisik atau keanehan lainnya. Tiba-tiba ikan mati begitu saja. Padahal harganya lumayan mahal.

Suatu hari tahun 1998   berkesempatan ke suatu daerah di Jawa Barat di Sukabumi. Saat perjalan pulang dipinggir jalan tertulis ‘Jual Ikan Koi’. Penasaran dan teringat waktu di kali kecil di negeri orang, maka disempatlkan untuk mampir sekedar lihat-lihat. Tidak faham dan tidak mengerti tentang seluk-beluk ikan yang satu ini, apalagi tentang jenis dan warnanya. Karena suka, dan kelihatan indah, dibelilah 20 ekor ukuran 8cm, dan 4 ekor ukuran 20cm. Harganya lupa. Sepanjang jalan rasanya senang apalagi di rumah junior boy umur 3 tahun pasti akan suka diberi kejutan ‘mainan hidup’, masih bukan ‘mutiara hidup’..

Tibalah di rumah jam 21.00 WIB. 20 ekor langsung masuk kolam, 4 ekor masuk ember besar. Sang  junior sudah tidur, belum bisa lihat.

22.00 WIB,.. tik-tik-tik 23.00 WIB,.. tik-tik-tik 4 ekor ikan masih dilihat, ditatap.. ko bagus ya warnanya. Karena capek habis nyetir, ngantuk dan tidur tepatnya 24.00 WIB atau pukul 00.00 WIB.

05.00 WIB sebelum mandi langsung lihat ember besar.. ternyata masih ada 4 ekor ikan koi warna-warni, tapi kondisinya tidur. Tidur miring semua, kayak kecapek-an, mata masih sepet dan remang-remang. Diperhatiin ko ikan-ikan itu diam saja gak ada yang bergerak.. dilihat lagi, tetap gak bergerak, hanya kadang-kadang melayang kanan-kiri, kanan-kiri pelan-pelan.. EH! Ternyata tuh ikan bukannya lagi tidur miring kecapek-an, mereka MATI! Mata gak sepet lagi, terus jadi kaget! berarti tuh ikan umurnya cuma 8 jam di rumah, padahal katanya 200 tahun. Duh.. ikan ko beginii.., apa karena gak dikasih makan atau apa ?.. 20 ekor lainnya mati satu-satu keesokan harinya..

10 Tahun berlalu tanpa jawaban.. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan pembantaian sia-sia 4 ekor ikan indah itu..mistery!

November 2008,.. 10 tahun telah berlalu semenjak tragedi 4 ekor ikan koi. Lihat-lihat internet mapir toko ikan di kawasan Sahari, Senen Jakarta.. eh ketemu lagi sama kawan 4 ekor ikan koi  warna-warni, merah, hitam, putih itu. Lihat-lihat, pilih-pilih, tanya-tanya sama sang penjual diputuskan beli 10 ekor ukuran 15cm. Katanya semuanya bagus. Kata penjual. Langsung dibungkus, diplastik dan ditambahin oksigen sama sang penjual. Masuk mobil. Ada yang merah campur hitam, merah totol hitam, putih totol hitam, ada  putih campur merah.. gak tahu kombinasi apa saja, yang jelas warna-warni.

14.00 WIB sampai rumah, ikan-ikan masuk kolam semua. Dilihat lagi, ditatap lagi.. bla.. bla..bla.. Sampai akhirnya tidur. Ikan terakhir ditinggal dalam keadaan segar bugar dan lincah..

06.00 WIB keluar rumah menuju kolam.. kejadian 10 tahun lalu terulang! Ikan pada tidur miring alias MATI! 2 ngambang, 3 mati tenggelam (ko ikan bisa mati tenggelam ya?..), 3 ekor semaput elayang-layang alias mabuk. Sisanya 2 ekor terkapar di lantai dalam keadaan kaku! Duh.. Tapi ternyata sekarang ikan ini bertambah umur dibanding yang tahun 1998, kali ini umurnya 16 jam.. 2x lipat umur ikan waktu 10 tahun lalu. Tapi tetap gak sampai 200 tahun seperti kata buku, lagian 200 tahun sang pemilik ???. Penasaran dan akhirnya mencari tahu, tanya sana-sini sama penjual, penjual yang benar, surfing internet. Intinya Stop beli!!.

Kira-kira sudah agak faham. 2 Minggu kemudian beli, kali ini di Kemang Bekasi, 4 ekor ukuran 12cm harga 4x lipat harga Senen Jakarta.

3 Minggu berlalu, ikan tersisa 3 ekor, 1-nya ‘rip’ dalam keadaan sangat belia, umur 21 hari, lumayan..

Itu sekelumit pengalaman.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi anda yang berminat memulai hobby menarik sekaligus menjanjikan ini:

  1. Beli di tempat yang bersih yang sudah dikarantina, bukan ikan yang baru diangkat dari kolam, kecuali memang bbeli di petani langsung, sebisa mungkin beli dari pedagang yang bisa dipercaya.
  2. Pilih ikan yang sehat, tidah ada luka dan normal, dan tentu saja memiliki keindahan yang baik.
  3. Siapkan karantina, lengkap dengan filter, aerator, dan kalau perlu heater serta obat anti stress.
  4. Biarkan 15 sampai 30 menit ikan dalam kondisi masih diplastik rapat, disimpan di atas air dalam kolam karantina sebelum ikan dan airnya dimasukin.
  5. Periksa apakah ada kutu yang terbawa dari tempat asal  yang menempel di tubuh ikan ? Kalau ada cabutin dengan pinset secara hati-hati. Biasanya terdapat di pangkal sirip atau di ujung ekor.
  6. Ikan di karantina puasa 1-2 hari. Jaga kondisi air, filter di karantina. 1 hari sebelum koi dari karantina masuk kolam, koi di dalam kolam puasa.
  7. Masukan ikan baru dari karantina ke kolam utama bergabung dengan koi yang lama, yang sudah menanti dalam keadaan lapar.
  8. Seluruh koi penghuni kolam, yang baru dan yang lama, p-u-a-s-a..
  9. Hari ke-3 saatnya buka puasa bersama, kasih pakan pelet secukupnya.
  10. Pelihara filter dan aerator kolam dengan baik. Kalau perlu backup power listrik dengan battery + inverter, agar pompa filter dan aerator terus hidup 24/7, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Setahun 365 hari hi.. hi.. Bersihkan secara berkala.
  11. Ganti 1/10 bagian air kolam dengan air baru yang sudah diendapkan min semalam, secara berkala.
  12. 29-Jan-2010, 02.16 WIB sekarang sudah berumur 1 tahun lebih, dan ikan-ikan itu masih hidup.
  13. Enjoy your Living Jewlery!

Mudah-mudahan berikutnya bisa lebih jauh tentang si ‘Living Jewlery’ ini. Sekian

NOTE:

Bahan dari berbagai sumber dan pengalaman sendiri.

————————————-

http://tiswansenjaya.spaces.live.com/

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Hobbies and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s