Ikan Langit..

…gunakan ‘huruf papyrus’ download di Font Space



Malam itu begitu kelam, hujan rintik masih saja menyisakan jutaan butiran air yang dingin yang  seolah berlomba berjatuhan dari awan terhempas berpendar di darat hingga membasahi pelataran kolam dan teras rumah.. Keriuhan bocah-bocah kecil itu baru saja berlalu selepas sore menjelang magrib yang terus beranjak melaju menuju sunyi yang semakin senyap. Dan pintu gerbang pun terkunci sudah.

30 Mei 2010 pukul 21.300..  saat itu gulita, angkasa begitu tidak bersahabat dan tak ingin menampakan rahasianya.

Belum begitu larut bahkan mandi sore pun memaksa terus menunda. Lapar menyergap dan ‘terpaksa’ beranjak ke dapur mencari-cari apa yang bisa dimakan, dimasak atau diseduh untuk sekedar pengusir aura yang tidak biasa. Dapur itu berjarak gedung tigapuluh langkah dari gubuk peraduan.

Enam tujuh langkah telapak kaki terasa begitu kebas saat mencoba melintasi teras menerobos terpaan hujan yang semakin malas setelah terkuras lepas. Segolek benda hitam hidup meliuk-liuk di tepi tembok, seekor ikan, ikan gabus yang berwarna hitam kelam. Dia hidup. Wah kiranya ini santapan malam yang diberikan, tapi..

Ukurannya mencapai betis kaki orang dewasa, berat sekitar 2kg dengan rentang panjang dari ekor hingga ujung kepala sekitar 50cm. Sigap saja tangkap, tapi bersikeras dia berontak menolak walau akhirnya dapat dan masuk ke ember yang tidak diisikan air. Setengah jam berlalu, ikan itu tetap saja memendam kekuatan tak terduga dan sorot matanya yang tajam terus bertanya-tanya. Berdelik.

Lupa dan hilang sudah rasa lapar, berkutat dengan kakap darat pekat.

Dari manakah dia berasal ?

Rumah Ibu memang dikelilingi kolam, tapi rasanya tidak mungkin lompat dari kolam ikan hias itu. Kolam ikan hias berair bening terbuat dari beton, dalam airnya hanya 40cm dan hanya berpenghuni ‘koi’ Jawa (ikan mas) dan steril dari lainnya.

Atau munkin dari kolam sawah tetanga samping ? Bisa saja seandainya ikan itu mampu terbang setinggi 2,5m atau ada seseorang yang sedang trance berkuyup melemparkan ikan ditengah malam buta ?

Atau dari kolam ikan gurame ? atau dari kolam ikan mujaer ? Lebih tidak mungkin! Kolam itu berjarak beberapa depa dan posisi dibawah teras 2m!.

Atau dia menerobos melubangi tanah ? tapi tak ada jejak..

Lalu dari mana ? Dari langit seperti dugaan kali pertama tadi ?  Wallahualam..

Lantas teringat cerita serupa. .

Sekitar penghujung musim hujan di 1950.  60th yang lalu sang gabus hitam seperti ini namun dengan ukuran ‘resaksa’ pernah hinggap di atap rumah almarhum aki (eyang, kakek) lantas ditangkap dan dimasak. Hampir semua warga Sukawargi mendapat bagian.

Barangkali besok atau lusa aku baru berani memasaknya. Sekarang terpaksa membeku laku di frezeer pada suhu 10˚C.

..oaalah R.L. Stine
opo


 

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s