Gesang, ‘Bengawan Solo’ dan Bengawan Solo

Sedikit catatan tentang ‘kepergian’ Sang Maestro Keroncong Gesang beberapa waktu lalu..

Kabar meninggalnya Maestro keroncong Indonesia Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono pada hari Kamis (20/05/2010) Pukul 18:10 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, JawaTengah cukup mengagetkan di tengah kontroversi hak cipta lagu ciptaannya ‘Bengawan Solo’.

Gesang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal pada umur 92 tahun – menciptakan lagu fenomenal itu saat beliau berusia 23 tahun pada tahun 1940. ‘Bengawan Solo’ telah diterjemahkan ke berbagai bahasa (tak kurang dari 13 bahasa international) termasuk Jepang, Belanda, China dan sebagainya.

Selama 42 tahun masa terakhir hidupnya beliau menyendiri (berpisah dengan istrinya pada tahun 1962) dan tidak dikaruniai anak. Direktorat Jendral HAKI Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia mendata sekitar 44 lagu ciptaan Gesang yang patennya diterbitkan pada 25 September 2009.

Lagu ciptaan Gesang lainnya yang cukup populer diantaranya Saputangan, Terang Bulan, Jembatan Merah dan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh mendiang legenda Broery Pesolima yaitu Pamitan.

Selamat jalan Gesang…

“… para pedagang slalu naik itu perahuuu…”

‘Bengawan Solo’ akan terus mengalir sampai jauh..

This entry was posted in Music and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s