Amplifier Part-1

Lebih besar lebih mantab, lebih besar lebih indah, lebih besar lebih enak..
Jadi kalo kecil ya dibesarin, kalo besar ga enak ya dibetulin..
Jangan salah dulu..

Ini bicara soal pembesaran, atau gain, atau amplitude dari suatu sinyal listrik yang awalnya keluar, lalu direproduksi, keluar lagi, terus nyambung ke kuping, terus ke otak, terus ke dada, terus keseluruh diri, begitu!, yaitu musik ! atau sinyal audio.

Awalnya dari suara ‘ngak-ngik-ngok’, mono, PH, terus suara stereo, Sub Woofer, Hifi,  Dolby, DolbyNR, THX, Hi-End, Multi Channel, Home Theatre, AC3, DTS, Blue Ray and so on, and so on, pokoknya bejibun. Lieuur.

Bagi saya mendengarkan musik dan vocal adalah merupakan suatu anugrah, ada semacam keindahan lain yang meresap, menyatu ke dalam diri. Musik yang ‘nyata’, ‘hidup’, ‘jujur’ dan ‘sederhana’. Karena selagi kita hidup, kuping kita jujur bahwa hanya frekwensi sederhana saja yang dapat diresponse oleh pendengaran kita, manusia. Kabarnya hewan sejenis gogog, dan kalong lebih canggih lagi kupingnya. Tapi ada yang mengaku lebih canggih lagi yaitu antenna.

Frekwensi sederhana’ inilah yang menjadi pokok pangkal. Menurut hukum alam yang sudah melalui penelitian dan diuji, serta diukur, ternyata kuping manusia ‘hanya’ terbatas untuk mampu mendengar atau menagkap sinyal suara yang mengandung frekwensi 20Hz sampe 20Khz. Aduh.. satuan Hertz ada dimana-mana yah, di listrik ada, di telekomunikasi ada, aslinya nama orang kan ?

Suara gedebag, gedebug adanya di frekwensi rendah (200-an-Hz), suara cuit-cuit adanya di frekwensi tinggi (di atas 5KHz), vocal manusia atau suara orang ada di tengah-tengah (sekitar 1KHz), lain-lainnya adalah suara pelengkap. Nah bila semua itu di-mix, di-komposisi, di-arrangement, di-synthesizer, dengan apik maka lahirlah semacam perpaduan suara indah berupa musik, vokal, instrument lain, suara alam dan sebagainya. Paduan yang dikemas tersebut lalu dengan berbagai tehnik ‘lieuur’ tadi di atas, di-record atau direkam, di-produksi, di-reproduksi, dan seterusnya sehingga bisa di-replay, bisa di-setel ulang, bisa dimainkan lagi untuk dinikmati. Itulah si Herz.

Keaslian saat pertama kali suara itu timbul, tidak akan pernah, dan tidak akan pernah terjadi lagi !. Nuansa, suasana, romantika, gema dan sebagainya akan sulit, dan sangat sulit di-reproduksi. Walhasil, orang jaman baheula membuat equalizer, maksudnya supaya saat di-replay bisa diakali, di-modifikasi, ditambah, dikurang sehingga hasilnya mirip-mirip dengan yang asli. Bagi saya ini adalah KEBOHONGAN !. Yang ada adalah.. kuping jadi capek, ga singkron, dan membosankan. Pake spatial kek, qudratik kek, multimatik kek, sabodo teuing.

Ga heran, ABG nyetel musik di mobil suaranya ga karuan, kenceng, nyaring, boom-boom, jes-jes.. Itu karena mereka berusaha menipu kuping mereka sendiri dengan alat tadi, Si Equalizer.

Equalizer apa Amplifier nih ? Judul di atas “Amplifier’ !

Semua komponen yang terkandung dalam Hertz, bisa nyampe ke kuping karena jasa AMPLIFIER.

Jadi sudah jelas dong fungsi amplifier ? Buat gedein suara kan ? Wah wah, belanda masih jauh euy.

Nanti dilanjut. Insya Allah.

Amplifier Part-2

This entry was posted in Entertainment, Hobbies, Music, Opini and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Amplifier Part-1

  1. Drag Race says:

    amplifir yg mantab, ukuran brapa ya bos…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s