Mudik

Tradisi Yang Merepotkan by Moh Ilham A Hamudy

http://www.suarapembaruan.com/pages/e-paper/2011/08/26/files/search/searchtext.xml

Kerancuan “Tradisi Yang Merepotkan (M. Ilham Hamudy – Tribun Jabar, Kamis 25 Agustus 2011)”

Oleh Apep – Operator Warnet di Jl. Paseh Tasikmalaya

Ibnu Khaldun dalam Mukhadimah-nya mensinyalir, terbentuknya sentra-sentra ekonomi di pesisir dan perkotaan oleh karena arus urban dan budaya pop akan merupakan penggerak ekonomi yang niscaya dari suatu kehidupan masa depan. Beliau menulisnya beberapa abad sebelum kita mengenal dunia cyber jauh sebelum seorang sarjana Andre Moeller mencoba menyimak tradisi mudik masyarakat Indonesia ini.

Mudiknya para urban ke udik ini tidak sekedar berjumpanya orang-orang (keluarga, kerabat, handai tolan, kawan, teman dan sebagainya) yang telah sekian lama berjauhan untuk bersilaturahmi, atau hanya sekedar berpindahnya aktifitas hidup untuk sementara para urban itu ke lokasi yang berbeda, tapi sejatinya membawa demikian banyak pengaruh selain hal-hal di atas. Orang-orang mudik umumnya membawa rejeki dari kota ke udik, membawa gaya hidup dari kota ke udik, membawa teknologi (sms, email, blog, facebook, twitter, youtube, video skype ala Nazarudin, dan layanan-layanan sejenis)  dari kota ke udik.

Dalam budaya pop seringkali kita gagap tehadap teknologi (adanya social network via internet misalnya), alih-alih mendekatkan kekerabatan atau silaturahmi seringakali justru sebaliknya, semuanya tergantung ‘up-date status’ yang bisa jadi dangkal, semu dan tidak bermanfaat untuk tidak dikatakan mudharat sama sekali. Sangat berbeda ketikan kita berjumpa dalam tradisi silaturahmi secara fisik, ada nuansa yang tidak tertulis di dalam pelajaran bab-bab tehnologi canggih.

Mudik yang nyatanya berlangsung dalam skala raksasa ini telah menggerakan ekonomi secara massal dan masive, distribusi rupiah yang sangat cair tanpa repot-repot dengan stimulasi atau interverensi pemerintah, lebih dari itu ribuan kreativitas industri perorangan dan multinasional terlibat dan bahkan melibatkan diri didalamnya. Lihat saja iklan-iklan prime time di media electronic maupun cetak yang sengaja mengambil tema ini untuk meraih keuntungan. Saya tidak bisa membayangkan bila tiba-tiba tradisi mudik hilang mendadak dan berakhir dikubur sejarah. Saya juga tidak tahu apakah ‘urusan dalam negeri’ ini juga mendapat perhatian selayaknya serta solusi dari BPP Kementrian Dalam Negeri atau tidak, atau memang hal ini (mudik) bukan urusan mereka. Wallahualam.

Milyaran orang setiap akhir tahun melakukan ‘mudik masal’ di banyak belahan di seluruh dunia, tapi tak satu pun negara yang merasa direpotkan, justru itu merupakan sepercik moment manusia yang mengaku modern yang sedang kembali menjadi manusia yaitu sebagai mahluk sosial yang sedang berinteaksi sesamanya yang kebetulan dikemas dalam tradisi.

Dalam hal ini pemerintah mengemban amanat undang-undang untuk mensejahterakan rakyatnya dan tidak perlu gamang untuk direpotkan oleh rakyatnya (rakyat yang miskin, anak terlantar, janda-janda tua, orang-orang mudik), sebaliknya melalui seluruh jajaran aparat negara buatlah infrastruktur dan pelayanan publik (jalan raya, alat tranformasi umum, pengaturan tiket, keamanan, ketertiban dan sebagainya) yang terbaik untuk rakyat, baik ketika gelombang mudik ataupun tidak. Dan baru saja kemarin, Rabu 24 Agustus 2011 Presiden SBY meninjau proyek Jalur Lingkar Nagrek 5.4km seharga Rp 300 Milyar melalui Departemen PU (dan kontraktor HK, lagi-lagi menggerakan ekonomi!) sebagai bukti pemerintah berupaya melayani rakyatnya yang bermaksud mudik. Kapan lagi rakyat akan merasa merdeka walaupun hanya sekedar mudik yang hanya bisa mereka alami setahun sekali ? Sekedar melepas beban hidup setelah setahun di kota atau di negeri orang. Bahkan menurut saya pemerintah sepertinya tidak merasa begitu direpotkan oleh ulah para koruptor, jadi tidak perlu merajuk dan merasa direpotkan oleh rakyatnya sendiri hanya karena adanya tradisi mudik ini.

Lebaran yang dimaksud ‘kembali ke fitrah’ tidak harus menjadi ‘kering’, ‘getir’ atau ‘terasing’, tetapi harus tetap membumi dan membahana sebagai syiar dari misi rahmatin lil alamin.

Tradisi mudik menggairahkan banyak orang, rasional, bisa jadi boros namun tetap tidak akan pernah hilang. Kita perlu kacamata plus yang lebih tebal untuk melihat potret berwarna ini serta disiplin latihan stretching yang baik.

Tanpa adanya tradisi mudik ini rasanya juga tidak akan pernah ada tulisan “Tradisi Yang Merepotkan” atau tulisan ini, yang bisa jadi sang penulisnya mendapatkan ‘berkah’ honorarium karena dimuatnya tulisan diharian lokal.

https://tiswansenjaya.wordpress.com

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s