Paracetamol

Seorang Rabi tua saleh, berjanggut putih malam itu sedang merenung tentang Illahi, lengkap dengan baju kebesaran berupa jubah putih dan kopiyeh. Malam yang hening senyap dan semilir. Tiba-tiba dirasa kepalanya agak sakit, (“Akh”) mungkin terlalu sibuk dengan urusan umat yang selalu bermasalah, hal itu biasa.. namun, renung terus renung sakit kepalanya bertambah menusuk ! Walau begitu dengan pengalamannya Sang Rabi tak acuh saja dan meneruskan perenungannya.

1 jam berlalu..

Sakit kepala yang dirasanya semakin hebat, sang Rabi mulai terganggu.. malam itu seolah tak sunyi lagi, dikepalanya terdengar gemuruh riuh tak beraturan. Sang Rabi mulai merajuk, dengan malu-malu dia mulai tergoda untuk mengadu kepada Tuhan tentang sakit kepala yang sudah 1 jam dialaminya. Oh Tidak ! Tidak ! Dia terlalu agung untuk sekedar berdo’a karena urusan sepele ‘sakit kepala’!. Padahal ini pertamakali dia mengalaminya, selama 80 tahun tak sekalipun dia pernah mengalami sakit, juga sakit kepala. Curhat ?? No Way !!

Rupanya pertahanan diri Sang Rabi sudah sampai batas maksimum, untuk pertamakalinya dia memutuskan berdo’a tentang sakit kepala. Dia berdo’a kepada Tuhan -yang selama ini tidak pernah dimintanya, agar disembuhkan sakit kepalanya. Lalu dia segera kembali ke perenungannya yang sempat tertunda selama 3600 detik. Tapi sedikit berbeda, sekarang Sang Rabi berada diantara kondisi fivty-fivty merenung dan sakit kepala.

Bagaikan disambar petir ! Serta merta Sang Rabi merasa berdosa, -berdosa oleh karena kekurang sabarannya menahan rasa sakit, lalu dia memohon maaf telah lancang kepada Tuhan dan sedikit meralat do’a (anehnya itu) sepelenya tadi. Tuhan sepertinya memaafkan, dan Sang Rabi dapat menguasai dirinya kembali dan mulai menjadi lebih tenang.

7200 detik berlalu..

Sakit kepalanya semakin tak tertahankan, kondisi Sang Rabi semakin kritis, dia berada di 80% sakit kepala dan hanya menyisakan 20% dayanya untuk merenung. Dia berdiri, lalu berjalan sedikit terhuyung dan berusaha tetap seimbang merapat ke dinding, menuju ruang pertemuan, -yang sudah sepi, yang biasa dihadiri oleh anggota majelisnya, -yang setahu dia 99,9% anggota majelisnya punya masalah yang sama, yaitu: ‘sakit kepala’!. Sang Rabi mendapati sebuah meja dipojok ruangan. Di meja itu terdapat beberapa bentuk botol kaca kecil berbagai merk minyak wangi, buku-buku tebal yang sudah berwarna kuning, pematik dan tembakau, serta beberapa botol plastik dan kemasan sejenis obat suplemen.

Walau usianya telah lanjut, mata Sang Rabi masih cukup tajam untuk meneliti dan membaca secarik kertas biru yang terdapat dalam kemasan sachet, yaitu sejenis obat paracetamol yang dia tahu persis tadi sore dibeli di kios warung perempatan gang. Benda inilah yang sering jadi andalan anggota majelis yang masih pada sembarangan itu kalau mereka headache.

Sang Rabi gemetar, dan 1/2 berbisik ‘Tuhan aku coba yaa..’ Dia ambil sebutir lalu diminumnya dengan segelas air putih, sedikit tersedak tapi akhirnya masuk juga ke tenggorokannya (apa kerongkongan ?). Ajaib ! baru 2 menit berlalu sakit kepalanya hilang ! belum lagi dia sempat beranjak dari meja, ah dia sembuh. ‘Makasih’ ucapnya sangat pelan. Dia penasaran dibacanya lagi kertas tadi, tertulis istilah-istilah bahasa latin yang menurut dia kedengarannya sangat lucu, seperti rentetan mantra-mantra jaman entah berantah.

Selanjutnya Sang Rabi sudah berada di singgasana pribadinya, dia meneruskan rutinitas tengah malamnya yaitu merenung. Detik pertama dia langsung menangis bahkan tersedu lirih penuh penyesalan ! Dia merasa bersalah dan berdosa karena telah berbuat seperti anggota majelisnya yang masih penuh dosa itu, yaitu meminum obat. Bagi dia, minum obat seperti perbuatan orang-orang bodoh, dan kini dia baru saja ikut melakukan ‘kebodohan’ itu.

‘Tuhan, bukannya ane ga percaya seperti do’a ane sebelumnya, tapi bukankah Engkau mengajarkan bahwa orang harus berikhtiar selain berdoa ?, berarti ane ga bener-bener berdosa kan ? wajar kan Tuhan ?..’

Ga ada jawaban.. setidaknya tidak terdengar ‘Loh.. Gue.. End!’

Lalu terdengarlah sayup-sayup lengkingan 3 octave Candil, -vocalist group band rock Seurieus (alm.?) asal Cimahi (?), ‘Rabi juga manusia, perlu do’a perlu usaha..’

Oh ternyata.. paracetamol yang diminum dan menyembuhakan sakit kepala Sang Rabi tadi adalah buah perenungan (non Illahi) salah satu anggota ‘bodoh’ majelisnya yang berprofesi Dokter yang minggu lalu resign dari majelis karena sering absen gara-gara sakit kepala ga sembuh-sembuh..

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s