Mobil

Seberapa lama mobil dirancang untuk tetap bisa berfungsi dengan baik dan layak digunakan ?

Pertananyaan teman itu mengingatkan sesuatu..

Mobil adalah suatu benda niscaya diera modern ini, -ditengah carut-marutnya lalu lintas di kota-kota besar di dunia, bahkan mobil sangat diperlukan sekali diera Mesir Kuno saat pembuatan Piramid atau diera kekaisaran China saat Tembok Raksasa dibangun seandainya mobil seperti sekarang ini telah ada pada jaman itu.

Ada mobil baru, dan selalu bertambah mobil baru. Ada mobil tua, dan selalu berusaha tetap bertahan dalam ke-tua-annya. Bahkan ada mobil antiq jadul yang tetap bertahan hingga sekarang dan masih mampu berfungsi dengan baik, konon mobil ini justru harganya selangit dikalangan para kolektor dan tetap saja banyak yang peminatnya.

Selain tergantung perawatan dan atau juga karena tidak terkena musibah kecelakaan atau hilang atau dicuri, umumnya mobil bisa bertahan cukup lama. Jadi relatif.

Mobil… Ya Mobil ! begitulah benda (kata benda) ini telah menjadi sarana jutaan manusia untuk bermobilisasi (kata kerja ?) dari satu tempat ke tempat lain, menghantar ketujuan masing-masing untuk menyelesaikan berbagai urusan dalam kurun waktu se-abad ini.

Mobil setidaknya adalah salah satu moda transportasi darat yang cukup favourite, selain bersifat public, mobil juga bisa sangat privacy bagi pemiliknya tidak seperti sarana transportasi umum lainnya.

Oleh karenanya mobil adalah sarana, adalah alat, dan bukan tujuan itu sendiri. Mobil yang baik setidaknya selalu siap dibawa bergerak kemanapun Si Empu-nya menghendakinya, mobil harus memberi rasa aman, tangguh di jalan dan sebisa mungkin lengkap dengan segala kenyamanan di dalamnya; sejuk, nuansa musik, aroma, suasana kabin dan bagasi yang mumpuni.

Jadi kata ‘mobil’ (mobile, gerak, bergerak) bisa diganti dengan kata ‘bus’, ‘van’, ‘sedan’ dan sebagainya, atau lebih jauh lagi diganti dengan kata ‘kereta api’, ‘pesawat terbang’, ‘kapal laut’ hingga pesawat wisata ulang-alik milik China atau Rusia.

Seandainya kata ‘mobil’ juga bisa diganti dengan kata (kata sifat) lain semisal dengan kata ‘pedoman’, ‘mind’, ‘falsafa’ dan sebagainya, maka semua kata pengganti kata ‘mobil’ tersebut artinya akan tetap sama, yaitu: ‘bergerak’. Bergerak dari satu titik (tempat, keadaan, situasi, pijakan atau dogma atau apapun) ke titik tujuan (yang baru, baru dari segala sesuatu dari titi satu tadi).

Betapapun manusia terikat dengan mobil miliknya, dia tidak akan suka dan ikut serta menyertai mobilnya tersebut saat dilakukan perawatan; dicuci karena kotor, diperbaiki di bengkel karena rusak, atau sekedar di-tune-up supaya lebih baik performancenya. Tentu sang pemilik tidak akan sudi berada di dalam mobilnya pada saat-saat seperti itu, dia akan berusaha berada di luar mobilnya, menunggu atau meninggalkannya sementara waktu hingga semua proses tersebut selesai dan berhasil, baru dia akan mengambil kembali dan mengendarainya dengan senang hati dan lebih baik.

Jadi penting sekali bahkan sangat kritis, saat mind, pedoman, falsafa (atau mobil tadi), dirawat, diperbaiki, di-tune-up untuk mendapatkan mind yang segar, pedoman yang sehat, falsafa yang kuat untuk mampu melalui lintasan carut marut ‘un-predictable situation’ hingga gerakan awal sampai ke tujuan.

Ada kalanya rambu-rambu lalin memerintahkan dan memaksa secara otomatis kepada sang pengendara mobil untuk siaga, berhenti, atau berjalan. Tapi dikegelapan sunyi di wilayah alas (roban atau hutan), -yang tanpa arah dan rambu-, mobil asing bisa saja tersesat. Tidak banyak pilihan selain belok ke kiri atau ke kanan dipersimpangan atau lurus terus ? dua-duanya tidak jelas kemana arahnya !

Pengalaman mengisahkan banyak kemungkinan,  lebih baik mengambil jalan lurus tanpa henti meski belum dan tidak tahu arahnya, daripada bergegas mengambil jalan ‘short cut’ berbelok ke kiri atau ke kanan hanya karena menduga akan segera sampai perkampungan (perkampungan rampok ??) atau alih-alih jalan terdekat untuk segera keluar dari sesat jalan yang akhirnya membawa semakin dalam ke tengah kegelapan, semakin tersesat dan tak mampu keluar dari gulitanya hutan.

Berupaya berjalan lurus tanpa henti, setapak demi setapak, penuh dengan kesabaran, keteguhan dan kehati-hatian, tanpa mengurangi ke-waspada-an kiri-kanan dalam ketidakpastian pada akhirnya akan membawa ke suatu kepastian arah, meskipun ternyata arah tujuan menjadi lebih jauh atau berlawanan atau lebih sukar, tapi dua hal telah pasti, pertama keselamatan telah keluar dari sesat gulita hutan, kedua kepastian posisi baru dimana dia berada saat ini, lalu memulai kembali perhitungan kemana jalan selanjutnya akan ditempuh…

Lepas dari semua itu diperlukan berkah Illahi yang luar biasa untuk mengurus ‘mobil’ ini…

This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s