Apet

Demo itu telah menjebakku selama 6 jam di tol, tanpa perbekalan makanan dan minuman, kelelahan dan akhirnya tertidur di jalan yang memang macet total itu. Entah sudah berapa jam, lalu seorang penjual asongan mengetuk-ngetuk kaca mobil membangunkanku, ‘Pak demo sudah selesai, sudah ga macet, Bapak tertidur..’

Sampai di rumah kembali tertidur dengan erangan panas dingin tak tertahan..

Kalau bukan karena dipaksa, pasti ga pergi ketemu dokter ini

Baru kali ini periksa ke tempat prakteknya di blok sebelah di komplek rumah, padahal sudah banyak yang bilang nih dokter lumayan bagus

Benar saja ‘lumayan’, lumayan muda dan ehmm cantik, dia dokter wanita rupaya

Ah orang-orang itu mengerjai aku

‘Bapak positif !, lebih baik segera periksa lab, Bapak kena gejala DB. Bapak juga perlu periksa yang lain, Bapak harus berhenti merokok dan berhenti minum kopi ! TOTAL !’, Dokter umum ini bergaya sp, sok tahu, eh tapi mungkin kelainan ini sudah nampak jelas baginya.

Suaranya merdu tapi vonisnya kejam dan bikin khawatir, berbekal resep sementara malam itu coba bertahan..

…Rokok dan kopi ?? Waduh, Apa hubungannya dengan DB ??,  2 pasangan teman selama ini harus berhenti menemani ?? Seingatku masih ada 1 bungkus kretek tersisa, 6 sachet kopi instan dan cream yang belum diseduh…

Esoknya, seorang teman mengantar ke klinik terdekat, bukan RS ngetop dan mahal, ga ada duit dan pasti nyusahin banyak orang kalo ke tempat lain

‘Confirmed !, Anda harus dirawat dan segera diinfus ! Besok periksa EKG dengan dokter sp lain teman saya’. Dokter yang cerdas, dia berusaha menerangkan dengan ramah tapi aku mengkap dia tahu sesuatu tentang penyakitku yang dia berusaha tidak mengungkapkannya segera, ah suudhzon aja..

‘Ini foto rontgentnya, harusnya tidak begini, tapi baru sedikit, tidak apa-apa jangan khawatir, ooh tidak Pak, itu tidak bisa kembali normal makanya… bla, bla, bla 2X’ teman dokter kemarin menerangkan dan aku sendiri tidak begitu mengerti

3 hari yang membosankan, tapi syukurlah akhirnya boleh pulang, lolos dari DB

‘Ingat ya Pak, 2 hari lagi jadwal kontrol yang tadi saya terangin’ kata dokter sp ini

‘Iya dok, terimakasih sampai ketemu’ aku menjawab sekenanya, dan saya tidak pernah datang untuk kontrol

3 bulan berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya kumat lagi. Badan ga bisa kompromi, dia seperti mengalami kecapekan yang luar biasa padahal aku sendiri semangat.. ko ga sinkron ya, oh ini mungkin yang dimaksud Drijarkara dalam tulisannya ‘tentang manusia’, salah satunya ga sinkron ini

Hal seperti ini pernah dialami uwak beberapa waktu lalu sebelum akhirnya dia menyerah pada kehendak Illahi, tapi dia mengalaminya saat sudah berumur 60th, aku mendahuluinya 20th, tapi tidak ada yang terlalu dini, segalanya mungkin terjadi. Segalanya ga pasti, yang pasti hanya ketidak pastian itu sendiri, begitulah kata Rieke Dyah Pitaloka, artis yang sarjana itu

Oh seandainya itu terjadi tidak apa, tapi urusanku dengan banyak pihak belum beres, dalam arti saya punya out standing kepada mereka, oh jangan dulu, biarkan aku selesaikan urusan ini dulu, karena urusan dengan Mu teramat berat

Temanku menyarankan, ‘jangan kerja berat2 …enjoy aja…mengalir seperti air…jangan terlalu di forsir’, saya tidak menambah atau mengurangi satu hurufpun, saya menjiplaknya 100%. Saya berterimakasih kepadanya, karena pada  forum minggu lalu saya memang pernah minta pencerahan kepada teman tadi dan dengan bijaksana dia membagi pengalamannya dengan saya ‘hidup mengikuti aliran air’. Terimakasih teman, bukankah teman yang baik itu selalu saling berwasiat ?

10th yang lalu saya pernah berkata kepada kawan tadi meyakinkan dia, ‘come on! sekarang sudah pakai motor sport, jalur kamu tol, kenapa pilih jalan berlobang dan berkelok ?, maju kawan ! pacu kencang-kencang motormu ! tinggalkan para pecundang itu !’ (dan berhati-hatilah..), dan thanks God dia survive dengan RPM tinggi hingga sekarang

Begitulah, bukannya saya tidak mau mengikuti air tenang itu, tapi saya terlanjur menciptakan arus deras, berbatu terjal, dan saya harus menjalaninya dengan berbekal pelampung seadanya dan keajaiban

Ada aroma lain, biarlah terjadi, hal alami adalah lahir dan lenyap, kata si Busa Kuning ‘Sponge Box’. Tak perlu ada bekas, jalani seperti biasa, tak perlu dupa, tak perlu kidung, lupakan.. begitu Tokuan Soho, master Zen Jepang Abad 16

Lenyapnya seseorang kebanyakan lebih menyenangkan orang lain daripada empati prihatin, kalau pun ada mungkin segelintir keluarga dan teman dekat, ini bukan hasil penelitian, setidaknya begitulah pendapat sinetron TV, dan saya tidak perlu semua itu, saya hanya perlu menjiplak Roberto Mancini dan pasukannya Mancester City, terus berjuang hingga 2 menit terkhir, menunda dan mengambil alih keagungan Setan Merah

Apet, begitulah teman-teman kecilku di dusun biasa memanggilku

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

5 Responses to Apet

  1. sofie says:

    ˚˚°=))[н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅]˚˚°=D[н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅]˚˚°=))°º♣ … Baru d post nih… Atau aq yg baru baca yah…😀 “̮ƗƗäƗƗäƗƗä”̮…. Setuju… Hidup itu mengikuti aliran air… Enjoy aja… Nikmati hidup selagi kita berada d dunia…🙂 always optimist and positive thinking…🙂

  2. sofie says:

    Setujuuu,,,,,
    <=-P=))wKwk..\=D/ wkWk..*nerd*:D
    °=-?..HEHEHE..=-?°
    .
    . 
    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s