Perfume

Sejatinya manusia suka akan wewangian, semerbak bunga alami, bau rerumputan hijau di embun pagi, aroma semilir pantai yang sepoi, bau cemara yang segar, aroma exotisme rempah dan dupa, dan beribu aroma pelangi anugrah alam lainnya yang abadi. Rasanya hanya manusia yang kurang beruntung saja yang alergi atau tidak bisa menikmati pemberian gratis Illahi itu.

Untuk itu semenjak peradaban kuno manusia selalu berusaha untuk menjiplak alam, mendekatkan alam agar sebisa mungkin bersatu dan menempel pada dirinya dengan cara meniru kesan aroma alami tadi. Maka terciptalah farfume, entah berkesan bunga-bunga, aneka daun tropis, buah-buahan dan sebagainya, intinya menciptakan kamuflase citra alami tadi. Upaya itu sedikit banyak berhasil, segelintir yang sukses, ribuan yang aneh dan banyak lagi yang gagal sebelum dan sesudah tercipta.

Saat ini kita bisa temui dibanyak tempat di lingkungan sehari-hari kita, di bis, di mall, di jalan dan terutama di kantor-kantor. Hampir semua orang berkesan aroma tersendiri. Kita bisa mendapatkan seorang maskulin, feminim, romantis, elegant, sporty, cool, warm, ceria dan berjuta kesan lainnya. Masing-masing mencirikan beda untuk dirinya, tidak sama dengan lainya atau dengan pesaing lainnya. Dan umumnya mereka bangga, sekaligus mewakili jati diri dan mempertaruhkan kepribadiannya dengan sepercik farfume, diantara mereka banyak yang coba-coba atau berpindah kesan, meski begitu ada juga yang konsisten dan classic. Jadilah aneka ragam warna dan aroma, suasana pun menjadi lebih semarak. Untuk semua itu sebagian dari kita bersedia menyisihkan budget bulanan untuk keperluan ini, tidak jarang perlu dana yang cukup besar untuk menebusnya.

Alih-alih menjadikan harmoni, tiruan alam ini justru sebaliknya. Farfume seringkali tidak cocok dengan si penggunanya, tidak sesuai dengan suasana, tidak nyambung dengan selera, bahkan citra aroma yang tidak bermakna apapun. Farfume telah menciptakan dinding-dinding keangkuhan, sekat-sekat arogansi, mengalienasi kebersamaan, menghilangkan kehangatan, menjauhkan keakraban. Farfume telah menjelma menjadi Bos, Seleb, Birokrat dan pagan.  “Lu anak buah, Gua atasan”. “Gua the have, you pecundang”.  “Gua keju, Lu singkong”.  Palsu. Ada nuansa segan, rikuh, norak, keder dan sebagainya.

Kembali ke sejatinya alam nun jauh disana.. aroma rumput padi yang sedang dibakar, bau lumut yang lembab, melati yang cerah, keringat pak petani yang membajak sawah, bulir beras yang ditumbuk, gula aren, butir kopi yang disanggan… ahhh terlalu banyak. Semua itu memberikan kehangatan, harmoni, kesahajaan, kejujuran, kebersamaan, kesetaraan. Asli. Tanpa dibuat-buat.

Keindahan pelangi tidak dapat diganti dengan layar digital, aroma seharusnya tetap alami..

Selesai.

Tambahan:

Sudah jadi hal yang mutlak, tidak boleh tidak, di industri pengemasan makanan, restoran, katering dan sebagainya.. HARAM bagi seluruh pegawainya yang bersentuhan langsung dengan bahan makanan untuk menggunakan farfume ! TIDAK BOLEH menggunakan farfume atau deodorant dan sejenisnya, TIDAK BOLEH tercium sedikitpun aroma farfume menghinggapi makanan. Anda lebih baik berbau netral tak berfarfume yang alami tapi tetap tidak boleh juga berbau apek..

Seorang professor ahli gizi telah berhasil menciptakan secarik bahan khusus yang beraroma khusus pula bagi seseiapa yang punya masalah dengan obesitas. Temuan ini telah dipatenkan dan dijual secara exclusive di counter-counter mewah di pusat-pusat penjualan ternama. Sang professor menjamin bahwa kegemaran makan kaum obesitas dapat serta merta dikurangi bahkan dicegah dengan cara mencium bahan temuannya tadi. Dan produk-produk sejenis segera bertaburan menghinggapi kita serta seperti biasa produk semacam ini laku keras.

20:00 WIB, 2 jam setelah ta’jil, pergilah saya ke kedai ketoprak kegemaran dan segera memesan 1 porsi standard seperti biasa, tidak terlalu pedas dan kerupuk yang banyak, Si Abang sang penjual dengan semangat berkata Siap ! dan bergegas mengelap piring adonan kacang, dan saya pun siap menunggu karena memang sudah lapar… tapi apa lacur ? Si Abang yang berbaju necis, bercelana jeans ketat itu menaburkan semerbak farfume ganjil seperti bau orang-orang kantoran itu… aroma arogan dan narsis amatiran menerpa saya, seketika selera makan saya hilang tak berbekas, dinding-dinding tembok imaginer segera membentengi saya, mempersempit udara bebas saya, dan… saya pun langsung balik kanan ga jadi beli dan hilang rasa lapar saya.

This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Perfume

  1. kelik says:

    titisan dewa awan. masih hangat tulisan ini. btw saya juga gak suka parfume, pak …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s