Nashar

Nashar ditolak jadi murid 3x oleh Sudjoyono (tokoh pelukis modern Indonesia), dia dianggap tidak berbakat jadi pelukis. Ketika di test menggambar oleh sang guru sebagai calon murid, Nashar menghasilkan gambar yg ‘ngak jelas’, tidak bermutu, apalagi mengandung seni, tapi dia ngotot, ini lukisan saya! katanya, Nashar melakukannya berkali-kali kepada Sudjoyono. Saat itu Nashar hanya melukis dengan mengikuti intuisi jiwanya, dia tidak mengerti melukis dengan cara lain. Tapi pada akhirnya Sudjoyono menerimanya sebagai murid ‘peng-gembira’ secara gratis (mungkin Sudjoyono pusing karena Nashar ngak ngerti2 dibilangin bahwa dia tidak berbakat melukis, lagian Nashar ngak bisa diusir, dia tetap saja disitu pengen belajar, atau juga karena Sudjoyono menaruh belas kasih mengingat penampakan raga Nashar yang memprihatinkan, atau… mungkin juga Sudjoyono sebenarnya telah menangkap batin Nashar yg penuh gejolak dan potensi dikemudian hari) dan bergabung dengan murid lainnya. Benar saja dan terbukti, ketika murid yang lain belajar serius (mereka membayar mahal dengan harapan jadi pelukis professional hehe..) pada siang hari, dia malah sering kelihatan molor ngerengkol kecapek-an, mungkin karena ulahnya sendirian coret-coret begadang menggambar saat malam hari.

(..beberapa tahun kemudian, dia dikenal sebagai Maestro lukis Indonesia, bahkan gurunya sendiri Sudjoyono tidak pernah dianggap Maestro!!)

Nashar mendapatkan didikan yang keras dari ayahnya dan dibesarkan dalam kelaparan dan penderitaan. Hasratnya berbenturan dengan rencana sang ayah yg ingin mendidik dia tapi bukan sebagai pelukis. Ayahnya sangat marah kala mendapati ruangan dinding kamar anaknya ini penuh dengan lukisan yg ngak karuan bikinan Nashar sendiri. Bahkan ketika Nashar menunjukan salah satu ‘karyanya’, ayahnya semakin marah, lukisan itu dirobeknya dan Nashar diomeli, setelah itu ayahnya seolah tidak mau memperdulikannya lagi. Nashar kemudian membenci sikap otoriter ayahnya itu, dia kabur ke padepokan Sudjoyono untuk mengikuti kata hatinya, melukis!, dia ingin belajar melukis, dia ingin menumpahkan luapan energi terpendam yang masih sangat remang gulita di alam jiwanya..

Semua konfrontasi dengan ayahnya dia bayar tuntas!, dia telah menjadi legenda pelukis Indonesia (sayangnya dia lahir di Indonesia, kalau dia lahir di barat mungkin media mereka telah menyandingkannya dengan Van Gogh). Nashar lahir menjadi seniman (nyeleneh) yang mencapai paripurnanya pelukis tanpa dia sadari atau rencanakan!, dia avant garde yang meretas caranya sendiri, menemukan jatidirinya.

Nashar pernah mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), namun kemudian dia mengundurkan diri dari lembaga itu karena perbedaan pandangan mengenai sistim pendidikan bagi siswa senirupa. Dia menolak sistim akademis yang dilaksanakan LPKJ. Dia seorang pengajar yang suka bergaul langsung dan menggambar bersama dengan siswa-siswanya, sehingga ia dianggap sebagai pengajar yang simpatik. Bagi Nashar, teori yang diajarkan di akademi senirupa tak begitu penting, meski teori boleh saja diajarkan pada siswa. Baginya aspek penjiwaan dalam diri seorang pelukis jauh lebih penting bagi seorang siswa yang mau mendalami senirupa.

Lukisan merupakan ungkapan perasaan pelukisnya pada kemurnian bentuk-bentuk yang bebas dari representasi alam atau objek-objek apapun. Nashar menghadirkan perasaan murni itu lewat irama garis, bentuk-bentuk, warna ataupun ruang. Dalam lukisannya ini, irama-irama itu memancarkan perasaannya yang mengalir sunyi. Akan tetapi di dalamya juga ada energi yang berombak, lewat getaran-getaran nuansa tekstur warna cerah yang berfungsi menghadirkan bentuk-bentuk abstrak itu.

Nashar adalah pelukis yang dengan intens melakukan pencarian esensi objek-objek manusia, alam, dan lingkungan, tetapi esensinya adalah bagaimana ia mengungkapkan totalitas jati diri. Lewat bentukbentuk yang terus disederhanakan sampai menuju abstraksi total, sebenarnya merupakan ekspresi yang mencerminkan efek psikis dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Warna-warna yang cemerlang sering tidak mengungkapkan kecerahan, tetapi menceritakan efek dramatis kehidupannya.

Dia selalu melukis malam hari di ruangan tertutup, dan tidak mengandalkan sinar matahari sebagai sumber cahaya saat melukis sebagaimana umumnya para maestro melukis.

Untuk mencapai kedalaman esensi objek-objek dan kemurnian perasaan dalam lukisannya, ia merumuskan perjuangan kreativitas lewat kredo ‘3 non’. Yaitu 1, non-konsep, maksudnya adalah, ketika mulai melukis ia belum punya gambaran, konsep, bahkan gaya yang akan dipakai ngak kebayang. Ia hanya mengandalkan pada keinginan jiwa dan intuisi yang akan mengalir. 2, non-objek, dalam kredo ini ia percaya bahwa suasana intens dalam melukis akan mendorong untuk mendapatkan suatu bentuk atau objek sendiri dalam kanvas. 3, non-teknik, disini ketika melukis ia selalu tidak berangkat dari pola teknik, tapi akan menyesuaikan dengan cara dalam berkarya. Dengan kredo ‘3 non’ itu diharapkan melukis harus melalui proses perjuangan yang sulit, sehingga situasi jiwa murni selalu terjaga. Namun sesungguhnya 3 non itu sendiri adalah konsep, objek dan teknik dalam tingkatannya sendiri, yg tidak bersedia begitu saja mengikuti padanan umum, jadi.. patron tetap itu harus dilewati dulu semuanya, setelah itu kebebasan akan meyatu dan menyertai sang pelaku seni hingga pengalaman tak terbatas.

Nashar adalah manusia pelukis yg sangat produktif, dia telah menghasilkan lebih dari 2000 karya lukisan, semua lukisannya adalah luapan ekspresi jiwa, bukan lukisan pesanan, bukan lukisan untuk menyenangkan para kolektor atau gallery, bukan pula lukisan penuh sejuta teori seni!. Bukan semua itu!, tapi adalah karya lukisan yg keluar dari kemurnian jiwa, jiwanya itulah yg kemudian selalu membimbingnya menghasilkan karya lukisan yg berbeda, karya yg mengandung maknanya sendiri. Semua sikap ‘keukeuhnya’ Nashar itu lalu menjadikannya ‘raksasa primitif di tempat sunyi’, namun dia adalah arketip yg diburu kaum sosialita seni sedunia.

Mungkin sebenarnya Nashar mampir ke Sudjoyono oleh karena biar orang-orang (pada umumnya) nanti mengetahui bahwa seolah-olah dia pernah belajar melukis pada seorang otoritas, namun sesungguhnya dia telah menetapkan diri sebagai otodidak mandiri yang tidak terperangkap apapun..

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s